Tampilkan postingan dengan label musim gugur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musim gugur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2009

Kebaikan yang Terhapus


Hampir semua orang yang mengenal akhwat yang satu ini mengatakan bahwa akhwat ini orangnya baik sekali. Ibunya, ayahnya, adik-adik, teman, bahkan atasannya. Semuanya bilang kalau akhwat ini baik. Hmm.. Kalau sudah ada orang yang ngomong seperti itu biasanya si akhwat hanya sedikit tersenyum, lalu menimpali 'kamu bisa bilang aku ini orangnya baik, karena kamu belum tau kekuranganku. Nanti kalo kamu udah tau kekuranganku (aibku), aku ga yakin kamu akan tetep mau jadi temenku..' .

Rupanya, akhwat tersebut pernah trauma dengan kawan yang pernah memujinya. Dulu, beberapa tahun lalu, ia sempat dekat dengan teman akhwat yang masih terbilang tetangganya, mereka satu halaqah. Dalam kurun waktu itu, mereka selalu bersama-sama, berbagi apa yang ia punya, yah, keseringan berbagi cerita, ilmu, dan asa. Teman itu mungkin memang benar-benar merasakan kebaikan akhwat tersebut, hingga temannya itu berkata ' iih.. Kamu ini baik banget ya? Aku harus belajar dari kamu. Aku bersyukur punya temen kaya' kamu.. '. Lalu, berjalanlah waktu, dan seketika akhwat tersebut khilaf dan melakukan kesalahan yang sebenarnya masih sangat-sangat bisa diperbaiki. Lalu karena merasa bersalah, akhwat itu semakin menjauh dari teman-temannya (sesama akhwat), dia sungguh merasa bersalah dan ingin menyendiri, memperbaiki kesalahannya. Teman yang tadi dekat dengannya sering mencari-cari, kerumahnya, atau mencoba telepon dan SMS. Teman itu berkali-kali mendatanginya, dan selama itu pula menghakimi akhwat tersebut, memaparkan semua kesalahan-kesalahan yang dilakukan akhwat itu. Sampai akhwat tersebut tercengang dan tak bisa berkata apa-apa. Setiap kali temannya datang, ia hanya mempersilahkan temannya duduk, lalu ia diam mendengar semua dakwaannya. Ia tak bisa berkata apa pun. Pernah, beberapa kali ia mencoba bertanya masalah lain, mencoba membuka pembicaraan ' gimana sih cara daftar untuk pemilih Bupati ' (kebetulan waktu itu mendekati pemilihan Bupati), dan Anda tahu apa jawaban temannya? Temannya menjawab ' Huuh.. Makanya liqo' jadi udah terdaftar' . Oo.. Begitu. Akhwat itu hanya bisa berusaha melapangkan dadanya dan introspeksi, memang dia salah. Pernah juga ia meminta kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tapi temannya menjawab ' Ih, kamu ini pengennya dimengerti, tapi ga mau ngertiin keadaaan orang lain.' . Iya, iya, memang akhwat itu salah. Dan rupanya satu kesalahan itu telah berhasil menghapus seluruh kebaikan yang selama ini berusaha ia torehkan dalam kanvas kehidupannya.

Kini temannya telah menikah. Sungguh ia merasa ikut bahagia atas pernikahannya. Namun ia enggan menghadiri walimatul 'ursy teman yang pernah dekat dengannya itu. Waktu itu ia sengaja pergi ke Bandung, dengan harapan ada alasan jika nanti ada yang bertanya kenapa tidak hadir ke walimahan temannya.

Mungkin terlalu dalam luka yang temannya torehkan ke hatinya. Sebenarnya akhwat tersebut sungguh-sungguh tidak ingin kalau hatinya ada suatu rasa ketidakridhaan terhadap seseorang. Ia takut kalau sampai ia mati masih membawa luka itu. Namun mau bagaimana lagi? Ternyata waktu lebih dari satu tahun (hingga saat ini) belum mampu menghapus luka itu. Ia masih menangis kalau tak sengaja ingat kejadian yang sempat membuatnya drop dan putus asa pada dirinya sendiri.

Dan kini setiap ada teman-teman atau siapa pun yang bilang kalau akhwat ini orangnya baik, ia pasti menyanggah. Ia selalu bilang ' Kamu bisa bilang aku ini baik, karena kamu belum tau kekuranganku. Nanti kalo kamu udah tau kekuranganku, aku ga yakin kamu masih mau jadi temenku.. '

Kamis, 16 April 2009

Tatkala Letih Menanti



Menunggu adakalanya terasa mengasyikkan
banyak waktu kita miliki untuk berfikir
sendiri seringkali sangat kita perlukan
meneropong masa silam yang telah terlewat

Mungkin ada apa yang kita cari
justru tersembunyi dilipatan waktu yang tertinggal
mungkin ada apa yang kita kejar
justru tak terjamah saat kita melintas

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan
banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
sendiri seringkali sangat menyakitkan
meneropong masa depan dari sisi yang gelap

Mungkin ada apa yang kita takuti
justru tlah menghadang di lembaran hari-hari nanti
mungkin ada apa yang kita benci
justru tlah menerkam menembusi seluruh jiwa kita

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
bermain dalam dada
setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai disini..

Rabu, 15 April 2009

SMS biru


Terjalin sebuah kisah persahabatan antara seorang ikhwan dan akhwat kurang lebih setahun yang lalu. Dari awal memang si akhwat kurang yakin kalau dirinya bisa menjalin sebuah persahabatan yang murni karena Allah SWT. semata. Dan dalam satu tahun perjalanan si akhwat semakin merasa cocok dengan sahabatnya itu. Baik, keren, cakep, nyambung, wah.. pokoknya 'klop' banget deh.. Hingga suatu hari si akhwat pergi merantau jauh.. Ketika jauh dan jarang berkomunikasi, akhwat tersebut semakin merasa kalau hatinya dan hati sahabatnya itu 'satu', sama.. Entah, ia tak sadar sejak kapan persahabatannya itu terkena polusi-polusi yang membawa virus merah jambu itu. Akhirnya si akhwat mengirimkan SMS 'biru' kepada sahabat tercintanya itu..

" Assalamu'alaykum,
akhi,kenapa SMS ana ga dibales?:)

Akhi 9a tau kan ana sering menangis pedih, mengiba pada Yang Satu, mengadu kepada-Nya betapa sulit menjaga hati ini.. Dan hari ini, maafkan ana akhi, ana minta ketegasan akhi.

Jujur za, akhir-akhir ini ana jadi sering bermimpi suatu hari nanti waktu ana sudah pulang, ana akan melewati hari-hari indah bersama akhi dalam ikatan pernikahan.

Ana tuh sering ngerasa kalo akhi sayang banget ma ana, itu yang buat ana berangan-angan suatu hari nanti akhi bakalan jadi suami ana. Belum lagi waktu ditanya 'kenapa kita berdua 9a nikah za?' Akhi jawab 'ntar nunggu ana dapet kerjaan tetep, baru ana lamar ukhti..'

Yah, ana seneng, seneng banget malah.. Tapi ana ga langsung percaya gitu za, ana ragu, ana juga berusaha berhusnudzon kalo hati akhi 9a bakalan terkotori. Lagian ana juga ngaca emangna siapa ana sampe buat akhi jadi begitu..

Akhi, ana 9a minta mahar 100 kg perhiasan emas, ana juga ga minta sebuah pesta pernikahan yang wah, dengan gaun pengantin bersulam sutera n bermanik-manik mutiara, ato bulan madu ke Hollywood.. Ana ga minta itu. Kalo masalah nie mah insyaallah ana udah bisa patuhi perintah-Nya n sunnah kekasih-Nya bahwa wanita yang berkah itu adalah yang paling mudah dinikahi n paling ringan maharnya.. Artinya 9a memberatkan calon suami'na. Apalagi masalah kerjaan, ana 9a pernah minta punya suami yang punya kerjaan tetep. Justru kalo bisa mah ana membantu, menyokong, or mendukung suami ana dalam menafkahi keluarga'na.. Kalo sekarang ana belum mendesak akhi untuk segera melamar, itu karena memang keadaan kita, bukan karena nunggu akhi punya kerjaan tetep..

Akhi, sudilah membalas pesan ana nie, supaya hati ana tenang. Kalo emang bener dugaan ana selama ini, ana bersyukur. Tapi kalo dugaan ana salah, bahwa ternyata selama ini ana salah mengartikan semua bentuk perhatian akhi, ya mohon dimaafkan..

Bales ya, supaya hati ini tenang, dan ana bisa bahagia. Supaya ana ga berharap banyak, n supaya ana ga kecewa lebih dalam lagi andainya nanti akhirnya akhi mempersunting bidadari lain..

Satu lagi, akhi haruz percaya ana, kalo ana ikut apa pun keputusan akhi.. "

Tak lama kemudian, sahabat ikhwannya itu membalas..
" Wa'alaykumsalam.. Afwan ukhti, ana ga bales-bales SMS ukhti bukan karena apa-apa, melainkan karena ana bener-bener 9i sibuk ma kerjaan yang shiftnya 9a tentu? Teruz kalo masalah jodoh, ntu mah ana serahin semua ma Allah,, Demi Allah ana ga ngira kalo ukhti punya perasaan lebih ma ana, sungguh ana merasa sangat bersalah karena sudah membuat seorang ukhti jatuh cinta n berharap banyak ma ana. Teruz kalo masalah yang 'ana bakal ngelamar ukhti kalo udah punya kerjaan tetep' ntu cuma becanda doang.. Karena ana pikir ukhti juga sedang becanda. Sumpah ana ga tau kalo ternyata ukhti beneran?? Ana cuma punya 1 harapan ma ukhti 'Jangan rusak persahabatan kita nie dengan perasaan ukhti, masih banyak yang lebih baik dari ana.. Dan ana ga mau buat ukhti lebih dalam lagi punya rasa itu..' Toh, kalo memang kita ada jodoh kita bakal jadi.. Tapi inget, jangan terlalu berharap.. :-) "

Berderailah air mata si akhwat membaca balasan dari ikhwan harapannya itu. Ia tak kuasa kalau harus tetap menjalin persahabatan dengan seorang ikhwan, dengan hati yang tulus, suci, murni tanpa ada rasa dan makna lain di hati. Dan kini ia memutuskan untuk mundur dari persahabatan mereka, ia ingin menyendiri, dan tak kenal seorang pun ikhwan (siapa pun dia) sampai nanti, sampai ia benar-benar telah siap menikah.